Diklatsar IV Banser Badung: Mencetak Kader Militan yang Siap Jaga NKRI dan Rawat Budaya Lokal Bali

Ansorbali.web.id

BADUNG – Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Badung resmi membuka Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) IV hari ini, Sabtu (13/6/2026). Bertempat di Pondok Jaka, Sangeh, Kabupaten Badung, Bali, kegiatan kaderisasi formal ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai dari hari Jumat hingga ditutup pada hari Minggu besok.

Ketua Panitia Pelaksana, M. Yudha Asmoro, S.PWK., dalam laporannya menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan didesain untuk menempa fisik, mental, dan spiritual para peserta agar siap mengabdi kepada masyarakat.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Badung, Samsul Hadi. Dalam sambutannya, Samsul menegaskan pentingnya konsistensi seluruh peserta. Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti proses pengkaderan ini dari awal hingga tuntas demi melahirkan kader Banser yang militan, loyal, dan berintegritas tinggi.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Bali, H. Tommy Reza Kurniawan, SE., MM., memberikan orasi kebangsaan yang membakar semangat para peserta. Ia mengingatkan bahwa seragam doreng Banser bukanlah alat untuk gagah-gagahan, melainkan simbol pengorbanan darah, air mata, dan nyawa para pendahulu dalam mengawal ulama serta keutuhan NKRI.

“Menjadi Banser adalah jalur khidmat yang berat—bermodal mandiri tanpa bayaran, bahkan nyawa taruhannya, seperti kisah syahid Sahabat Riyanto. Namun, insya Allah berkah yang diterima sangat spesial, salah satunya diakui sebagai santri Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari,” ujar Tommy Reza.

Dalam sambutannya, H. Tommy Reza Kurniawan juga merangkum beberapa poin historis dan strategis terkait eksistensi Ansor dan Banser, khususnya di Pulau Dewata:

Mulai dari Akar Sejarah yang Panjang, bahwa Keberadaan kader NU di Bali sudah tercatat sejak Muktamar NU ke-IX tahun 1934 yang dihadiri delegasi Bali, di mana muktamar tersebut melahirkan ANO (cikal bakal Ansor). Keterlibatan berlanjut pada perang kemerdekaan 1945 hingga bentrokan fisik melawan PKI (Gestok) di Gerokgak dan Tegalbadeng pada November 1965.

Kemudian Melawan Radikalisme yaitu pasca tragedi Bom Bali, Ansor Bali aktif bersinergi dengan aparat untuk memetakan dan melawan paham radikalisme demi mengembalikan keharmonisan Bali yang berlandaskan cara pandang NU yang moderat.

Selanjutnya peran sosial dan budaya Banser di Bali berkomitmen untuk terus hidup berdampingan secara harmonis, membantu masyarakat sekitar, serta ikut merawat dan melestarikan budaya lokal Bali.

Momen Diklatsar IV ini terasa sangat istimewa dengan kehadiran Manggala Utama Pasikian Pecalang Bali, Brigjen Pol (Purn) Dewa Bagus Made Suharya. Kehadiran tokoh nomor satu pecalang di Bali ini menjadi simbol nyata eratnya hubungan emosional dan harmonisasi antara Pecalang dan Banser.

Tommy menegaskan bahwa Pecalang dan Banser memiliki kesamaan nilai kemanusiaan, yaitu semangat “Ngayah” mengabdi tanpa pamrih untuk menjaga keharmonisan sesama anak bangsa dan merawat budaya nusantara.

Di hadapan ratusan peserta, Ketua PW Ansor Bali tersebut menginstruksikan dengan tegas agar seluruh anggota Banser selalu mendukung dan siap sedia membantu semeton Pecalang Bali kapan pun dibutuhkan. Sinergi ini diharapkan menjadi contoh pemersatu, tidak hanya untuk Bali, tetapi juga untuk Indonesia dan dunia.

Menutup arahannya, Tommy berpesan agar momentum Diklatsar ini digunakan untuk mempererat tali persaudaraan. Ia mengingatkan bahwa esensi kata “Sahabat” di Ansor-Banser adalah ikatan suci yang akan selalu ada dalam suka maupun duka, melampaui sekat jabatan yang hanya bersifat sementara.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *