Lawan Narasi Intoleransi, Ketua Ansor Bali Ajak Kader Ansor Aktif Suarakan Wajah Damai Bali

ansorbali.web.id

Tabanan – Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Bali, H. Tommy Reza Kurniawan, mengajak seluruh kader Ansor dan Banser untuk menjadi penyambung sekaligus perajut keberagaman di tengah masyarakat. Kader Ansor juga diminta ikut menjaga adat, tradisi dan kebudayaan Bali sebagai kekayaan bersama yang tidak ternilai.

Pesan tersebut disampaikan Tommy dalam sambutannya pada kegiatan Konfercab GP Ansor di Kabupaten Tabanan. Ia menilai kehadiran GP Ansor di Bali memiliki posisi yang sangat penting, terutama di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi yang berpotensi menimbulkan prasangka antarkelompok.

“Kehadiran Gerakan Pemuda Ansor, khususnya di Bali, sangat penting sebagai penyambung dan perajut keberagaman, serta ikut merawat budaya dan adat istiadat yang ada di Bali,” ujarnya.

Menurut Tommy, kader Ansor dan Banser tidak boleh hanya hadir dalam kegiatan formal organisasi tanpa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Keberadaan kader harus mampu memberikan warna positif dalam kehidupan sosial masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa tugas kader tidak hanya menjaga ulama dan organisasi Nahdlatul Ulama. Di Bali, kader Ansor memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut menjaga tradisi, adat istiadat dan budaya masyarakat setempat.

Tommy menyebut kebudayaan dan karakter masyarakat menjadi salah satu alasan Bali tetap dikenal sebagai destinasi wisata utama dunia. Daya tarik Bali, menurutnya, tidak semata-mata berasal dari keindahan alam, tetapi juga dari keramahan masyarakat serta adat dan budaya yang tetap terpelihara.

“Bali bukan hanya dikenal karena pemandangannya yang indah. Karakter masyarakatnya dibentuk oleh budaya dan adat istiadat. Ini yang harus kita ikut jaga,” katanya.

Karena itu, ia meminta kader Ansor tidak hanya datang ke Bali untuk mencari nafkah atau menikmati berbagai potensi yang dimiliki Pulau Dewata. Kader harus mampu menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat Bali yang mencintai dan menjaga seluruh kekayaan sosial budayanya.

Tommy turut menyoroti berkembangnya berbagai narasi di media sosial yang berpotensi menciptakan stigma buruk terhadap Bali. Ia menyayangkan munculnya pemberitaan dan komentar yang membenturkan persoalan suku, ras dan agama.

Menurutnya, persoalan yang dilakukan oleh individu tidak boleh digeneralisasi menjadi kesalahan suatu kelompok. Kader Ansor harus berani menyuarakan kegiatan-kegiatan positif agar ruang publik tidak dikuasai oleh narasi provokatif dan informasi yang memecah belah.

“Jangan sampai hanya karena satu orang melakukan suatu hal, akhirnya semua mendapatkan stigma yang sama. Kita yang melakukan kegiatan positif harus berani bersuara,” tegasnya.

Tommy menolak anggapan bahwa Bali merupakan wilayah yang diskriminatif atau tidak toleran. Ia menuturkan pengalaman pribadinya sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh besar di Bali serta hidup berdampingan dengan keluarga dan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.

Ia menilai kehidupan toleransi di Bali telah tumbuh secara alami sejak lama, bahkan sebelum istilah moderasi beragama ramai dibicarakan. Kebiasaan saling menghormati, membantu dan memberikan ruang kepada pemeluk agama lain telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Sebagai salah satu contoh kebersamaan, Tommy menyinggung hubungan baik antara Banser dan pecalang. Kolaborasi keduanya dalam berbagai kegiatan dinilainya sebagai simbol nyata persaudaraan dan komitmen bersama dalam menjaga keamanan serta kerukunan di Bali.

“Banser dan pecalang memiliki keterikatan yang harus terus dirawat. Kebersamaan ini menunjukkan bahwa Bali adalah pulau yang toleran,” jelasnya.

Ia berharap kader Ansor dan Banser terus memperkuat komunikasi serta kerja sama dengan pecalang, desa adat, tokoh agama, pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Sinergi tersebut diperlukan untuk merawat keharmonisan di tengah berbagai tantangan sosial.

Tommy menegaskan bahwa kader Ansor harus menjadi pelopor dalam menjaga persatuan dan mencegah berkembangnya politik identitas maupun sentimen kelompok untuk kepentingan tertentu.

“Kita harus saling menjaga dan menunjukkan bahwa Bali adalah pulau yang toleran. Kebersamaan ini harus terus kita rawat di tengah berbagai berita miring dan arus informasi tentang Bali,” pungkasnya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *