Ansorbali.com
“Banser Tak Hanya Menjaga Ulama, tapi Keharmonisan Antar Umat Beragama” – Sebuah tulisan yang pernah saya buat di tahun 2018 dan iseng-iseng dikirim ke kompetisi banser bercerita tingkat nasional di Bontang, Kalimantan Timur. Siapa sangka, tulisan yang tidak seberapa ini rupanya menarik perhatian hingga menjadi juara satu tingkat nasional.
Tulisan yang tidak jauh-jauh dari pembahasan tentang bagaimana keberagaman pulau Bali dan bagaimana kiprah Ansor dan Banser NU turut menjaga harmonisasi antar umat beragama di Bali.
Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena denyut toleransinya yang kuat. Di tengah mayoritas masyarakat Hindu yang memegang teguh adat istiadat, kehadiran Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) memberikan warna tersendiri dalam mozaik kebhinekaan di Pulau Dewata.
Bagi Banser Bali, seragam loreng bukan sekadar identitas organisasi, melainkan simbol pengabdian ganda: sebagai benteng pelindung para ulama (Himasatul Ulama) dan sebagai garda terdepan penjaga kerukunan antarumat beragama (Himasatul Ummah).
Tugas asasi Banser adalah menjaga marwah dan keselamatan para Kiai serta Ulama. Di Bali, peran ini dijalankan dengan tantangan dan dinamika yang unik. Ketika para ulama besar, atau tokoh NU berkunjung ke Bali untuk mengisi pengajian atau tablig akbar, Banser Bali selalu siaga di garis terdepan.
Pengawalan ini bukan sekadar protokoler keamanan, melainkan bentuk ta’dzim (penghormatan) santri kepada gurunya. Banser memastikan para ulama dapat menyampaikan pesan-pesan damai dengan tenang, aman, dan nyaman. Dalam setiap kegiatan keagamaan Islam di Bali, mulai dari peringatan Maulid Nabi hingga istigasah, Banser memastikan acara berjalan tertib tanpa mengganggu ketenangan lingkungan sekitar yang majemuk.
Salah satu pemandangan paling menyejukkan di Bali adalah kolaborasi antara Banser dan Pecalang (polisi adat Bali). Hubungan ini adalah manifestasi nyata dari filosofi Menyama Braya (persaudaraan).
Jika di daerah lain toleransi sering kali hanya menjadi wacana, di Bali, Banser dan Pecalang mempraktikkannya di lapangan, misalnya:
Saat Nyepi: Ketika umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, Banser turut membantu Pecalang menjaga keamanan lingkungan di perbatasan desa atau wilayah pemukiman Muslim, memastikan suasana hening tetap terjaga.
Saat Idulfitri/Iduladha: Sebaliknya, saat umat Islam melaksanakan Salat Ied, Pecalang sering kali terlihat berjaga di halaman masjid, mengatur lalu lintas, dan menjaga keamanan agar saudara Muslim mereka dapat beribadah dengan khusyuk.
Pengamanan Gereja: Banser Bali juga rutin terlibat dalam pengamanan hari besar umat Kristiani seperti Natal dan Paskah, bekerja sama dengan TNI/Polri, demi memastikan saudara sebangsa merasa aman saat beribadah.
Kehadiran Banser di Bali juga berfungsi strategis untuk menepis stigma negatif tentang Islam. Melalui pendekatan yang humanis dan berbudaya, Banser menunjukkan wajah Islam yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semesta alam). Mereka membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga Bali yang baik bukanlah hal yang bertentangan.
Ketua PW Ansor Provinsi Bali, dari masa ke masa, dalam berbagai kesempatan sering menegaskan bahwa kader Banser di Bali dididik untuk memiliki “Hati NU, Jiwa NKRI, dan Semangat Menyama Braya”.
Banser Bali telah membuktikan diri bukan hanya sebagai organisasi paramiliter kepemudaan, melainkan sebagai aset sosial yang berharga bagi Provinsi Bali. Dengan tetap teguh memegang prinsip Ahlussunnah wal Jamaah dalam mengawal ulama, mereka sekaligus luwes dalam merangkul keberagaman budaya setempat.
Di tengah riuh rendah dunia yang kerap terpecah belah, Banser Bali dan masyarakat Pulau Dewata mengirimkan pesan penting kepada dunia: bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk bermusuhan, melainkan jembatan untuk saling menguatkan dalam ikatan kemanusiaan.
Kang Muhlisin

